Kutu Loncat Mengancam Produksi Jeruk Dunia

Nimfa kutu loncat jeruk. Photograph oleh David Liittschwager

Nimfa kutu loncat jeruk. Photograph oleh David Liittschwager

Produksi jeruk di Florida terancam oleh penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Disebut sebagai citrus greening atau huanglongbing, penyakit yang disebabkan bakteri itu membuat jeruk rontok dari pohonnya sebelum mereka layak panen. Bakteri yang disebut sebagai Asian citrus psyllid itu menguras nutrisi pada pohon dan disebarkan oleh serangga kecil yang dikenal dengan kutu loncat.

Penyakit ini sendiri bisa bersembunyi di pohon selama lima tahun sebelum efeknya mulai terlihat. Menurut Greg Carlton, Chief of the Bureau of Pest Eradication and Control, Department of Agriculture, Florida, saat diketahui, seringkali itu sudah terlambat. Sejalan dengan waktu, kami melihat semakin banyak serangga dan penyakit ini,” kata Carlton yang pertamakali mengetahui masalah ini muncul di tahun 2006. “Tahun lalu, sekitar 20 persen jeruk rontok ke tanah,” ucapnya. Pada akhir 2014 sebanyak 80% jeruk di Florida dilaporkan terserang penyakit ini.

Tahun 1990-an, produsen citrus Florida menghasilkan lebih dari 200 juta boks jeruk. “Tahun ini, kami memperkirakan hanya dapat memproduksi 133 juta boks saja,” ucap Carlton. Di sisi lain, biaya produksi jeruk juga telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Dari awalnya hanya sekitar Rp 9 juta per 4 ribu meter persegi, kini angkanya menjadi Rp 22 juta karena tingginya biaya untuk membasmi hama tersebut.

“Jika kita tidak menemukan obatnya, bakteri ini bisa memusnahkan industri citrus di Florida,” kata Bill Nelson, senator dari partai Democrat di Florida. “Kita terancam harus membayar Rp 50 ribu per buah jeruk dan itupun harus diimpor dari tempat lain,” ucap Nelson yang telah meloloskan bantuan federal sebesar Rp126 miliar untuk mendanai penelitian terkait penyakit tersebut.

Menurut sebuah studi dari University of Florida, industri jeruk menghasilkan lebih dari Rp 100 triliun per tahun dan menyediakan 76 ribu lapangan kerja di Florida, membuatnya sebagai mesin ekonomi penting bagi negara bagian tersebut.

Sejak tahun 2006, penyakit ini telah menimbulkan kerugian sebesar Rp 50 triliun dan menghilangkan 8.200 lapangan kerja. Florida sendiri bukanlah satu-satunya kawasan yang terancam kerugian besar akibat citrus greening (huanglongbing). Texas dan California juga mengalami hal serupa dengan jeruk-jeruk mereka. Citrus greening (huanglongbing) juga telah menghantam Brasil, negara produsen jeruk terbesar di dunia, serta negara-negara lain.

Saat ini, pakar dari Amerika Serikat dan Brasil tengah bekerjasama untuk menemukan cara membasminya. “Kita sedang memikirkan untuk membuat tanaman yang dimodifikasi sehingga tahan terhadap bakteri,” kata Abhaya Dandekar, pakar biologi molekular dari University of California, Davis. “Kita sedang berusaha membantu tanaman dalam melawan bakteria tersebut,” ucapnya.

 

 

Sumber: National Geographic Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s