Keprok Batu 55 Mutu Tinggi Karena Seleksi

Setiono, Teknisi Balitjestro melakukan monitoring Jeruk Keprok Batu 55 di Kebun Percobaan Tlekung. Jeruk ini umurnya 4 tahun ditanam pada 2010.

Setiono, Teknisi Balitjestro melakukan monitoring Jeruk Keprok Batu 55 di Kebun Percobaan Tlekung. Jeruk ini umurnya 4 tahun ditanam pada 2010.

Suraji panen 90% jeruk keprok batu 55 berkualitas A.

Pendapatan pekebun jeruk keprok batu 55 di Desa Selokerto, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Suraji, lebih tinggi ketimbang para petani jeruk lain. Itu karena 90% dari hasil panen masuk kualitas A berdiameter buah lebih dari 4 cm dan mulus. Padahal, pekebun lain rata-rata hanya menghasilkan jeruk kualitas A sebanyak 50—60%. Sementara buah yang berdiamater 3—4 cm masuk ke kelas B dan kurang dari 3 cm kelas C.

Dari sebuah pohon berumur 5 tahun Suraji memanen 100 kg jeruk per tahun. Artinya, sebanyak 90 kg jeruk tergolong kelas dengan harga Rp10.000 per kg. “Itu harga saat panen raya,” ujarnya. Jadi, pendapatan Suraji dari jeruk kelas A mencapai Rp900.000 per pohon per tahun. Setelah dikurangi biaya perawatan Rp150.000 per pohon per tahun untuk pupuk, pestisida, dan tenaga kerja, laba bersih Rp750.000 per pohon. Pendapatan Suraji lebih tinggi ketika panen di luar panen raya karena harga jeruk Rp17.000—Rp20.000 per kg.

Seleksi

Apa rahasia Suraji lebih banyak panen kelas A? Ia disiplin menyeleksi buah jeruk. Ketika buah seukuran bola bekel atau berumur 4 bulan sejak bunga mekar, ayah satu anak itu melakukan penjarangan. Ia hanya mempertahankan buah yang mulus. Dalam satu dompol yang biasanya terdiri atas 5—7 buah, Suraji hanya menyisakan 3 buah, bahkan kadang-kadang 1 buah. “Tujuannya untuk menghasilkan buah yang berkualitas,” kata pekebun jeruk sejak 1982 itu.

Menurut ahli jeruk di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Subtropika (Balitjestro), Tlekung, Batu, Jawa Timur, Ir Arry Supriyanto MS, para pekebun jeruk memang semestinya menjarangkan buah. “Bobot dan bentuk buah akan lebih seragam,” kata Arry. Menurut Arry, keseragaman bentuk dan bobot buah yang optimal turut menentukan harga jeruk di pasar. Penjarangan juga mengoptimalkan pasokan nutrisi untuk pertumbuhan buah.

Jika semula terdapat 8 buah, usai penjarangan tersisa 3 buah, maka ketiga buah itu memperoleh porsi nutrisi lebih banyak sehingga pertumbuhannya lebih baik. Penjarangan buah juga bagus untuk mempertahankan produktivitas buah. “Jika pohon dipaksakan untuk menggendong terlalu banyak buah, maka pohon lebih ringkih dan produktivitas buah selanjutnya tidak bisa maksimal,” kata alumnus Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu.

Musababnya, energi tanaman terkuras untuk menopang pertumbuhan buah yang terlalu banyak. Jika nutrisi tidak tercukupi, maka kemungkinan tanaman merana. Suraji panen jeruk 3—4 bulan setelah penjarangan buah. Kunci sukses Suraji menghasilkan jeruk berkualitas tinggi juga berkat penggunaan bibit berkualitas. Ia memperoleh bibit jeruk keprok batu 55 dari Balitjestro.

Pestisida

Ia menanam bibit hasil sambung pucuk setinggi 0,5 m dengan jarak tanam 3 m x 3 m pada lubang tanam berukuran 1 m x 1 m sedalam 0,5 m (lihat ilustrasi). Menurut Arry Supriyanto, penggunaan bibit bebas virus sangat penting untuk mencegah penyakit jeruk paling berbahaya, yaitu Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD). “Virus CVPD bisa mengurangi produksi hingga 100% alias tanaman mati,” kata Arry. Menurut Arry, selain bibit bebas virus, pengendalian serangga penular yaitu kutu loncat Diaphorina citri juga perlu dilakukan.

Prof Dr Roedhy Purwanto dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT IPB) juga menyampaikan pendapat serupa. Cara paling efektif untuk mencegah virus selain menggunakan bibit bebas virus adalah mengendalikan serangga pembawa virus itu. “Penyakit CVPD harus dicegah terlebih dahulu sebelum menular ke pohon lainnya,” kata Roedhy.

Kutu loncat dan thrips juga mengancam jeruk. Untuk mengendalikan keduanya, Suraji menyemprotkan insektisida berbahan aktif abamectin. Sementara untuk mengendalikan hama tungau merah, ia menyemprotkan insektisida berbahan aktif piridaben (lihat ilustrasi). Selain hama, Suraji juga mengendalikan penyakit blendok akibat cendawan phytophthora.

Menurut Arry, blendok juga merupakan penyakit yang membahayakan. “Serangan blendok bisa menyebabkan kematian pada pohon,” kata Arry. Untuk mengatasi penyakit blendok Suraji menyemprotkan fungisida berbahan aktif klorotalonil dengan konsentrasi 2 ml per liter air. Adapun dosis penyemprotan 300—500 ml per tanaman. Berbagai upaya perlakuan intensif itu terbukti berbuah manis. Suraji mampu menghasilkan jeruk keprok batu 55 berkualitas super. (Bondan Setyawan)

Sumber: Trubus, Desember 2013 http://www.trubus-online.co.id/2013/12/page/4/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s