Yang Lokal yang Tergusur

BERJALAN terhuyung-huyung, Hisamudin mengangkat tiga kardus jeruk ponkam. Gerah terasa di los buah di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa pekan lalu. Kaus Hisamudin dibasahi keringat. Sudah lima kali dia bolak-balik dari kios buah ke lokasi parkiran mobil sembari mengusung 30 kilogram jeruk. “Biar capek, enggak apa. Mumpung lagi murah,” kata pengecer buah di kawasan Klender, Jakarta Timur, itu.

Ponkam, jeruk asal Cina, melimpah-ruah di Kramat Jati. Harganya Rp 7.800 sekilo. Jeruk Medan, pesaing terdekat ponkam, misalnya, Rp 9.500 sekilo. Di Carrefour Duta Merlin, Jakarta Pusat, jeruk ponkam harganya sedikit lebih mahal, Rp 9.800 per kilo, tapi tetap lebih murah dibanding jeruk lokal berukuran sama yang Rp 10.380 sekilo. “Logis kan kalau saya pun memilih membeli jeruk Cina,” kata Hisamudin.

Tak hanya jeruk. Apel Fuji, pir Shandong, dan longan atawa lengkeng juga membanjiri pasar, di gang yang becek sampai supermarket kinclong. Hebatnya, aneka buah itu selalu ada tiap waktu. Seperti tak ada jeda musim. Widodo, pemilik kios buah impor di Pasar Induk Kramat Jati, berkisah bahwa dalam sehari dia bisa mendatangkan 2-5 ton jeruk dari Cina. Tiga pekan pertama April ini, pasokan jeruk dari Cina ke Kramat Jati mencapai 300 ton. “Pasokannya stabil tiap minggu,” kata Suminto, petugas pendataan di Pasar Induk Kramat Jati.

Data Badan Pusat Statistik berbicara. Tren pasokan buah Cina ke negeri ini memang melonjak. November-Desember tahun lalu, nilai impor buah Cina berlipat tiga kali menjadi US$ 42 juta dibanding periode sebelumnya. Total jenderal, sepanjang 2009, nilai impor buah Cina telah mencapai US$ 390 juta, naik dari tahun sebelumnya, US$ 330 juta.

jeruk impor jeruk mandarin

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Achmad Dimyati menjelaskan, Negeri Panda lihai mengoptimalkan industri pertanian. Tenaga kerja yang murah membuat harga buah Cina lebih rendah ketimbang buah lokal. Kondisi geografis Cina juga luas. Bentangan iklimnya komplet, dari tropis hingga subtropis. “Otomatis pasokannya banyak dan beragam,” kata Achmad.

Tentu saja tak elok menyalahkan alam sebagai biang kerok buah lokal kalah bersaing. Ekonomi biaya tinggi di negeri ini salah satu penyebab lainnya. “Komponen biaya buah lokal lebih banyak dibanding buah impor,” kata Irawan Kadarman, Direktur Urusan Korporat PT Carrefour Indonesia.

Transportasi, umpamanya. Biaya angkut jeruk Medan jauh lebih mahal ketimbang mendatangkan jeruk ponkam. “Itu sudah termasuk berbagai pungutan impor,” kata Irawan. Rantai tata niaga buah lokal juga panjang. Perantara penghubung petani dan retail ada di berbagai lini. Tentu saja, biaya jadi bertambah. “Mestinya rantai pasokan diperpendek,” kata Irawan.

“Saya sedih menyaksikan buah impor amat melimpah,” kata Agusdin Pulungan, Ketua Umum Wahana Masyarakat Tani Indonesia. Padahal kualitas buah lokal lebih baik dibanding buah asal Cina. Agusdin terang-terangan meragukan kesehatan buah impor itu. “Unsur pestisidanya tinggi,” katanya.

Agusdin curiga buah impor diberi bahan pengawet dosis tinggi. Alasannya, buah impor tahan berbulan-bulan, dari kebun, dikapalkan, hingga sampai di pasar, tanpa kisut. Namun Irawan Kadarman menepis kecurigaan Agusdin. “Semua buah impor yang didatangkan jaringan Carrefour harus melalui proses ketat,” katanya. “Pemasok diwajibkan memiliki perlengkapan pendingin, chiller dan freezer, yang bagus sehingga buah tetap segar ketika dipajang di depan konsumen.”

Derap buah impor terus melaju. Ibarat berlaga di ring tinju bebas, buah lokal tidak dibekali perisai cukup untuk bersaing. Pengenaan proteksi pun tak diperbolehkan lagi setelah Indonesia terikat perjanjian perdagangan bebas. Menurut Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, sejak menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Indonesia sebenarnya sudah menerapkan proteksi nontarif sanitary and phytosanitary. Maksudnya, unsur kesehatan produk pendatang diawasi ekstraketat agar produk dalam negeri lebih leluasa bergerak di pasar. “Ada juga ketentuan karantina lain yang diakui secara internasional,” ujarnya.

Tapi banjir buah impor sulit dibendung. Satu-satunya cara memoles pamor buah lokal adalah membenahi tata niaga dan infrastruktur. Hilangkan pungutan serta perbaiki kualitas dan produktivitas agrobisnis. “Masak, buah lokal enggak bisa jadi tuan di rumah sendiri,” kata Agusdin.

Impor dan Produksi Buah (Ton)
2007 2008
Impor buah 502.156,1 502.962,7
Produksi lokal 15.897.132 17.462.706
Jeruk Cina 118.808,4 143.661,1
Jeruk Lokal 2.625.884 2.467.632

 

___

 

Koreksi Produksi Buah Lokal – Surat dari Dirjend Hortikultura

ARTIKEL “Yang Lokal yang Tergusur” dalam majalah Tempo, edisi 3-9 Mei 2010, halaman 74 cukup menarik untuk menggugah perhatian terhadap industri perbuahan nasional, khususnya jeruk. Artikel itu mencoba menggambarkan tantangan buah lokal dalam mengha-dapi buah impor, yang tecermin dari rendahnya daya saing jeruk nasional terhadap jeruk produksi Cina, seiring dengan realisasi perjanjian ACFTA.

Namun, menurut hasil penelaahan kami, terdapat kekeliruan yang cukup mengganggu dalam tulisan itu. Grafik data yang membandingkan buah impor dengan produksi buah lokal dan jeruk impor Cina dengan produksi jeruk lokal menunjukkan seolah-olah pada kedua kasus perbandingan tersebut, impor lebih besar dibandingkan dengan produksi lokal.

Berdasarkan data kami dan Badan Pusat Statistik pada 2008, produksi buah lokal mencapai 17,5 juta ton, jauh lebih tinggi dibanding buah impor yang hanya 503 ribu ton. Begitu pula dengan produksi jeruk lokal, tercatat 2,5 juta ton dibandingkan dengan jeruk impor Cina yang hanya 144 ribu ton. Kondisi serupa pun terjadi pada 2007.

Dalam tulisan itu juga terkesan seolah kami hanya menyalahkan faktor alam dalam kekalahan daya saing jeruk lokal terhadap jeruk Cina. Kami telah menangani masalah itu secara komprehensif. Selain dengan menyiasati faktor alam, kami mengembangkan kawasan buah-buahan unggulan dengan kelengkapan infrastruktur, menerapkan budi daya yang baik, penataan rantai pasokan, hingga promosi untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dan ekspor.

Kami telah meminta transkrip wawancara terkait dengan artikel itu kepada wartawan Tempo untuk dipelajari. Tapi permintaan tersebut tidak dipenuhi.

AHMAD DIMYATI
Direktur Jenderal Hortikultural
Departemen Pertanian

Memang benar ada kesalahan teknis desain pada grafik yang ditampilkan, sehingga seolah-olah impor buah lebih tinggi daripada produksi buah lokal. Untuk itu, surat ini sekaligus ralat. Untuk permintaan transkrip wawancara, Tempo tidak memiliki kebijakan untuk memberikan kepada narasumber.

Terima kasih. -Redaksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s