Emas Jingga dari Bukit Soe

    EMAS JINGGA DARI BUKIT SOE
Ir. Sutopo, MSI
O85649664488 – 081233440678 – Optus09@yahoo.co.id

 

Penulis dan anak-anak Soe

Kering dan gersang, bisa jadi merupakan bayangan yang pertama kali terlintas dalam benak sebagian orang jika terdengar nama Nusa Tenggara Timur (NTT).  Jangan salah, bumi Indonesia yang berbatasan dengan negerinya Ramos Horta ini ternyata memendam potensi pertanian khususnya komoditas jeruk yang luar biasa.  Jeruk keprok Soe, mungkin terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi tidak asing bagi kelompok Masyarakat Jeruk Indonesia meskipun hanya mendengar namanya di seminar-seminar atau pertemuan perjerukan.

Apa istimewanya?.  Jika dilihat dari ukuran buah dan rasa, dan karakter lainnya, jeruk Soe yang dihasilkan di dataran tinggi pada wilayah yang bergelombang sampai berbukit tidak jauh berbeda dengan jenis jeruk keprok lain seperti Batu 55, Garut, Tawangmangu, dan lain-lain, yaitu ukuranya diatas jeruk siam, kulitnya lebih tebal dan mudah dikupas, serta rasanya khas rasa jeruk yaitu manis bercampur sedikit asam. Istimewanya jeruk Soe memiliki warna kulit khas jingga secara alami tanpa diberi perlakuan apapun. Begitu menariknya performa jeruk keprok Soe, sebagian orang menasbihkannya sebagai The Best Tangerine from Indonesia.  Warna kulit yang istimewa dari jeruk keprok Soe yang dihasilkan di NTT agak sulit dicapai oleh jeruk di wilayah lain.  Munculnya pigmen warna jingga pada kulit jeruk Soe dipicu oleh suhu udara yang sangat dingin di daerah Soe (pengaruh angin dari Australia) pada saat pemasakan buah yang jarang ditemui di sentra produksi jeruk lainnya.

Tambang Emas Jingga

Penulis di pasar tradisonal jeruk Soe, NTT

Sepadan dengan penampilannya, jeruk keprok Soe dihargai oleh masyarakat cukup tinggi.  Bila musim panen tiba, tidak jarang konsumen datang langsung memetik dan menikmati buah di kebun seperti dialami oleh salah satu petani di Desa Ajaobaki.  Di daerah sekitar kebun, buah jeruk Soe juga dijajakan di tepi jalan dengan harga Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 30.000,- untuk setiap 6 buah (± 1 kg) bergantung pada mutunya.  Bersama jeruk, biasanya juga dijual jenis buah lain seperti apokat dan pisang.  Berbeda dengan di tepi jalan, setelah melalui tahap pembersihan dan pemutuan (grading) jeruk keprok Soe laris manis di super market dengan harga Rp. 33.500,-/kg.

Tidak berlebihan jika usahatani jeruk keprok di Soe laksana investasi

Jeruk Keprok Soe di Plaza Soe mengungguli jeruk impor

penambangan emas jingga.  Ayo berhitung!.  Secara matematis jika kita asumsikan 1 hektar lahan (500 pohon) menghasilkan buah sebanyak 20 ton (rata-rata produksi jeruk nasional), maka petani akan memperoleh pembayaran sekitar 400 juta/ha.  Wao…., suatu pendapatan yang fantastis bukan?.  Namun sayang nama besar dan potensi ekonomi tersebut tidak seiring atau bahkan bertolak belakang dengan kondisi tanaman di lapangan bahkan akhir-akhir ini banyak dilaporkan mengalami kemerosotan.  Pada saat kami berkunjung ke sentra jeruk Soe, rasanya sulit untuk melihat kebun jeruk yang jumlahnya memadai misalnya 1.000 pohon/kebun, apalagi hamparan.  Konsekuensinya, jeruk keprok Soe juga tidak mudah didapatkan di pasaran.  Kalau ada, masing-masing buah rasanya cenderung beraneka ragam tidak seperti yang diinginkan oleh konsumen.

Ada apa Jeruk Soe?

Usahatani jeruk di Soe memang memiliki banyak tantangan, baik kondisi fisik alam maupun cara bertani yang dilakukan oleh masyarakat.  Kondisi alam yang kering dengan tipe iklim E-3 (Oldeman) dengan jumlah curah hujan setahun < 1500 mm menjadi salah satu penghambat untuk tanaman jeruk terutama pada tahun pertama sampai dengan ketiga.  Untuk mengatasi masalah air, kegiatan pemasangan pipa air ke kebun petani pernah dilakukan tetapi hasilnya kurang menggembirakan karena penggunaan air untuk tanaman jeruk harus bersaing dengan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Tanah-tanah di sentra jeruk Soe umumnya termasuk ordo Alfisol dengan tekstur liat (clay), dengan konsistensi teguh dan lapisan bawahnya berwarna coklat kuat sampai merah kekuningan, tekstur liat, banyak kerikil dan batu yang dapat menghalangi perkembangan akar tanaman jeruk.  Tanah ini umumnya tingkat kesuburannya rendah dan bentuk lahannya yang berbukit menyebabkan rentan terhadap bahaya erosi.  Disisi lain, tanaman jeruk membutuhkan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya sehingga dibutuhkan masukan pupuk berimbang secara intensif baik organik maupun kimia.

Tidak sedikit petani menanam jeruk dilatar belakangi oleh bantuan benih dari pemerintah, bukan karena mandiri.  Karena itu, pemahamannya terhadap budidaya jeruk yang baik dan benar kurang memadai.  Tipe petani ini biasanya tidak siap menerapkan teknologi anjuran yang membutuhkan saprodi tidak sedikit.  Sayangnya di daerah tersebut tidak mudah untuk mendapatkan saprodi yang memadai.  Kalaupun saprodi tersedia, seringkali harganya tidak memihak petani.

Petani jeruk di Soe masih ada yang melakukan perladangan berpindah.  Untuk mempersiapkan lahan tanaman pangan pada musim hujan maka pada ahir musim kemarau rumput atau belukar di ladang dibersihkan dengan dibakar.  Kegiatan ini seringkali mengakibatkan sebagian tanaman jeruk mati/terbakar.

3 thoughts on “Emas Jingga dari Bukit Soe

  1. Sayang sekali jika jeruk soe ini lama-lama menghilang. Sebaiknya pemerintah turun tangan untuk mengembangkan tanaman jeruk ini dengan dana APBD dan APBN. Disarankan juga agar petani/kel.tani agar kompak dan segera mengajukan proposal ke Dirjen Hortikultura agar beliau ikut mendukung pengembangan jeruk tersebut.

    Like

  2. kita perlu mencontoh bagaimana membangkitkan jeruk nasional. contoh yang dapat diambil pelajaran vietnam bisa membangkitkan kopi dengan jalan. 1, semua bibit unggul disediakan oleh negara untuk mengganti bibit petani yg kurang baik,2 lahan2 tidur dihidupkan lagi. 3 irigasi teknis yg modern (vietnam membendung sungai2 dan mengalirkanya ke gunung2/ pertanian kopi ) hingga kopi vietnam bisa berbuah diluar musim. 4. periset2 diterjunkan langsung k lapang (petani) 5. modal yg mudah oleh negara. 6 pasar yg traansparan. hasilnya dlam waktu 4 tahun produktivitas kopi 4 ton/ha, (indonesia mak 1 ton/ha) vietnam naik 6 kali lipat dgn mutu prima dan bisa menjadi penghasil kopi no 2 di dunia. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh negara, tanpa itu mustahil jeruk kita akan bangkit, aplg bs menandingi jeruk impor

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s