Posted by: kpricitrus | June 14, 2011

Rekomendasi Pemupukan untuk Tanaman Jeruk

Oleh : Ir. Sutopo, Msi.

Staf Peneliti BALITJESTRO
(opotus@yahoo.co.id)

Tumbuh kembang tanaman dalam sitem alamiah seperti di hutan seimbang dengan proses pelapukan batu-batuan dan sisa organisme.  Adanyan campur tangan manusia  seperti pengangkutan hasil tanaman menyebabkan   kehilangan nutrisi dari lahan sehingga kesuburannya menurun.  Oleh karena itu, tanpa pasokan nutrisi yang memadai, lahan jeruk tidak mampu mendukung kebutuhan nutrisi tanaman secara optimal sehingga kesehatan tanaman, volume dan mutu buah yang dihasilkan menjadi semakin rendah.

Fenomena mutu buah jeruk nasional yang belum memuaskan dan munculnya gejala kekurangan hara pada daun yang bermuara pada kemerosotan kesehatan tanaman jeruk di beberapa sentra produksi menunjukkan bahwa usaha menjaga kesuburan lahan yang dilakukan oleh petani melalui pemupukan masih belum sesuai dengan kebutuhan tanaman.  Aplikasi pupuk tidak berimbang seperti pemberian urea berlebihan atau tanpa pupuk lain masih sering terjdi.  Akibatnya, tidak hanya mutu buah rendah (sari buah sedikit dan rasanya hambar) tetapi juga pemborosan dan bisa menimbulkan pencemaran nitrat dalam air.   Agar pupuk dapat diserap tanaman secara efisien dan efektif, sebelum memupuk perlu memahami paling sedikit 4 hal, yaitu apa saja nutrisi yang dibutuhkan, berapa dosisnya, kapan waktu dibutuhkan, dan bagaimana cara aplikasinya.

Keprok Batu 55

Nutrisi yang Dibutuhkan Tanaman Jeruk

Selain air, paling sedikit ada 12 macam unsur esensial yang dibutuhkan tanaman jeruk diambil dari dalam tanah. Pertama, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak (makro primer), meliputi nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).  Kedua, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak hanya pada kondisi tertentu (makro sekunder), meliputi kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan belerang (S).  Ketiga, unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit tetapi bila kekurangan akan mempengaruhi produksi dan kelangsungan hidup tanaman (mikro), meliputi besi (Fe), seng (Zn), mangan (Mn), tembaga (Cu), boron (B) dan molibdenum (Mo).

Sumber N yang banyak beredar  di pasar adalah urea, ZA dan pupuk majemuk NPK; P adalah SP36, fosfat alam dan pupuk majemuk NPK, dan K adalah ZK, KCl dan NPK.  Sumber Ca adalah SP36, fosfat alam, kapur atau dolomit yang sekaligus mengandung Mg.  Kebutuhan S lebih sedikit dibandingkan N dan biasanya bisa terpenuhi dari pemberian pupuk kandang, pupuk ZA atau ZK yang biasanya diberikan guna memenuhi kebutuhan N atau K.

Kebutuhan unur mikro biasanya bisa terpenuhi jika tanah diberi pupuk kandang secara teratur. Unsur mikro juga banyak dijual sebagai pupuk daun, contohnya : “MICROCIT” yaitu pupuk mikro lengkap yang diformulasi khusus untuk tanaman jeruk, diproduksi oleh KPRI Citrus, BALITJESTRO (https://kpricitrus.wordpress.com).

Penentuan Dosis N, P, K dan Waktu Aplikasinya

Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman dipengaruhi oleh jenis/varietas, umur, hasil atau biomasa yang dihasilkan tanaman, dan faktor lingkungan.  Ada beberapa pendekatan untuk menentukan dosis pupuk, yaitu analisis tanah atau daun, percobaan lapangan pada berbagai umur tanaman, penggantian hara yang hilang untuk pertumbuhan dan hasil panen, dan gejala kasat mata. Bagi petani yang jauh dari laboratorium Ilmu Tanah dan lahannya sempit serta terpencar, pendekatan paling mudah dan sederhana adalah berdasarkan umur tanaman dan hasil panen dikombinasi dengan analisis tanah.

Rekomendasi berdasarkan umur tanaman digunakan terutama pada periode tanaman belum menghasilkan buah (TBM).   Awalnya, tanaman perlu dipupuk N lebih banyak agar pertumbuhan vegetatifnya optimal.  Saat berumur 3 tahun, tanaman mulai memasuki transisi menuju periode menghasilkan buah/dewasa  (TM) sehingga porsi P dan K ditingkatkan guna mendukung pembentukan organ generatifnya.  Walaupun tanaman muda membutuhkan dosis pupuk lebih rendah, aplikasinya harus lebih sering karena jangkaun akar untuk menyerap pupuk masih sempit/terbatas.  Pada umur 4 tahun ke atas, pupuk diaplikasikan dua kali setahun yaitu setelah panen dan empat bulan setelah pemupukan pertama (Tabel 1).

Tabel 1.  Rekomendasi Pemupukan Jeruk Berdasarkan Umur Tanaman

Umur (tahun)

Gram/pohon/aplikasi

Aplikasi Pupuk

N

P2O5

K2O

 1

 2

 3

 4

 5

10 s/d 20

25 s/d  40

40 s/d 75

80 s/d  120

125 s/d 150

5 s/d 10

15 s/d 20

25 s/d 40

50 s/d 75

80 s/d 100

5

10 s/d 15

20 s/d 30

40 s/d 50

60 s/d 80

2 – 3  kali/tahun

3 – 4 kali/tahun

3 – 4 kali/tahun

2 – 3 kali/tahun

2 kali/tahun

Pada tanaman dewasa (TM) yang telah melewati fase kecepatan pertumbuhan vegetatif maksimal ( > 5 tahun), dosis pupuk  bisa didekati dengan menghitung hasil panen buah.  Pendekatan ini menggunakan asumsi bahwa status kesuburan kebun telah optimal akibat dari penambahan pupuk sebelumnya.  Dalam sistem ini, hara yang terangkut panen menjadi penyebab utama terjadinya penurunan kesuburan kebun.  Agar pertumbuhan dan hasil buah tetap optimal, kesuburan kebun harus diperbaiki dengan memasukkan pupuk sebesar nutrisi yang terangkut panen ditambah kebutuhan untuk pertumbuhan vegetatif, fiksasi tanah, pelindian (leaching), penguapan, dan erosi.

Berdasarkan pendekatan ini, dosis pupuk yang harus diaplikasikan setara dengan 2 sampai 3% dari total bobot buah yang dipanen.  Setiap jenis jeruk menghendaki komposisi unsur yang berbeda, untuk jeruk siam adalah 10 N : 7 P2O5 : 2 K2O, keprok adalah 5 N : 2 P2O5 : 3 K2O, dan pamelo adalah 2 N : 1 P2O5 : 4 K2O.    Dosis tersebut (Tabel 2) dibagi dua untuk diaplikasikan setelah panen dan saat pembesaran buah (4 bulan kemudian).

Tabel 2. Rekomendasi Pemupukan untuk Jeruk Siam, Keprok dan Pamelo Berdasarkan Hasil Panen

Panen(kg/ph)

Dosis (g/phn/th)

Jeruk Siam

Jeruk Keprok

Jeruk Pamelo

N

P2O5

K2O

N

P2O5

K2O

N

P2O5

K2O

25

262 s/d 395

185 s/d 275

53 s/d 77

278 s/d 417

90 s/d 136

182 s/d  273

143 s/d 214

71 s/d 107

289 s/d 429

50

525 s/d 790

370 s/d 550

105 s/d 155

556 s/d 833

182 s/d 273

364 s/d 545

286 s/d 429

143 s/d 214

571 s/d 857

75

790 s/d 1185

555 s/d 830

157 s/d 233

833 s/d 1.250

273 s/d 409

545 s/d 818

429 s/d 643

214 s/d 321

857 s/d 1.286

100

1.050 s/d 1580

740 s/d 1.100

210 s/d 315

909 s/d 1.364

364 s/d 545

727 s/d 1.090

571 s/d 857

286 s/d 429

1.143 s/d 1.714

Analisis Tanah

Saat persiapan lahan dan setiap 5 tahun sekali, tanah perlu dianalisis kesuburannya terutama pH, kandungan bahan organik, fosfor, kalium, basa-basa dapat ditukar, dan kapasitas pertukaran kation (KTK). Pengetahuan tentang status awal kesuburan tanah dan perubahan yang terjadi akibat pemupukan selama 5 tahun adalah penting guna mengoptimalkan manajemen nutrisi.  Sebagai contoh, jika pH tanah tidak netral maka semua unsur hara yang diberikan tidak dapat tersedia optimal. Selain itu, unsur hara tertentu misalnya P mempunyai sifat relatif sulit larut dan cenderung terakumulasi dalam tanah. Jika terjadi akumulasi P akan menghambat serapan Zn, dan gejala kekurangan Zn yang  muncul di daun seringkali dianggap gejala CVPD (Huang Long Bing).

Aplikasi Pupuk Kandang

Kandungan bahan organik di lahan pertanian biasanya rendah (C < 2%), kecuali tanah organik.  Kadar  C organik yang ideal untuk kebun jeruk adalah 3 – 5%.  Penambahan pupuk kandang/bahan organik secara teratur dapat meningkatkan C organik tanah yang berguna memperbaiki kesuburan fisik, kimia maupun biologi tanah, serta sebagai sumber unsur hara makro dan mikro.  Tanaman berumur 1 – 4 tahun diberi pupuk kandang sebanyak 20 – 40 kg per pohon dan selanjutnya sebanyak  40 – 60 kg per pohon.   Kotoran sapi merupakan salah satu jenis pupuk kandang yang baik untuk memenuhi kebutuhan unsur mikro. Kasus munculnya gejala defisiensi unsur mikro biasanya tidak ditemukan di kebun yang diberi kotoran sapi pada setiap akhir musim kemarau.  Sebaliknya jika diberi kotoran ayam berlebihan dapat menyebabkan defisiensi Zn karena kotoran ayam mengandung P tinggi.

Pengapuran   

Kondisi pH tanah yang ideal untuk tanaman jeruk adalah sekitar 6, karena pada pH tersebut semua unsur hara dapat tersedia optimal.  Nilai pH tanah di kebun-kebun jeruk semakin lama cenderung turun karena adanya penyerapan kation basa (K, Ca, Mg) oleh tanaman dan pelindian (leaching), serta pembentukan asam organik maupun anorganik akibat pemupukan urea, ZA, anmonium nitrat dan lain-lain.  Sebenarnya kemasaman tanah tidak secara langsung menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman, tetapi pada pH rendah (<5) konsentrasi ion mikro bisa meracuni dan Al dalam larutan bisa merusak akar tanaman.

Selain untuk menetralkan pH tanah masam, pengapuran juga berfungsi mempertahnkan ketersediaan Ca, memperbaiki struktur tanah yang bertekstur berat, memperbaiki ketersediaan unsur hara dalam tanah, menunjang aktivitas mikroba, dan melindungi akar dari keracunan Al. Jika pH tanah dibawah 5, tanah galian lubang tanam dicampur dengan 1 kg kapur dan pupuk kandang.  Untuk tanaman dewasa meskipun pH tanah netral, pemberian dolomit dosis rendah (± 1 kg/pohon) perlu dilakukan guna menjaga ketersediaan Ca dan Mg karena jumlah Ca yang terangkut buah relatif sama dengan unsur P.

Cara Pemupukan

Tahun pertama dan kedua, pupuk kandang dan dolomit disebar dibawah tajuk pada akhir musim kemarau, kemudian dicampur tanah sedalam 10 cm.  Tahun berikutnya pupuk kandang dicampur kapur (jika diperlukan) dimasukkan kedalam parit melingkar dibawah tepi tajuk sedalam 20 cm kemudian ditutup tanah.

Pupuk kimia diaplikasikan setelah pupuk kandang, kapur dan tanah mengalami reaksi yang sempurna (sekitar 4 minggu).  Bila waktu aplikasi pupuk dan kapur berdekatan menyebabkan reaksi negatif, misalnya pengikatan P oleh Ca dari kapur, dan amonium akan diubah menjadi NH3+kemudian dilepaskan ke atmosfer.  Caranya adalah pupuk campuran dimasukkan ke dalam lubang tugal atau parit pupuk kandang/dolomit sedalam 10 – 15  cm, kemudian ditutup tanah.   Untuk tanah-tanah bertekstur kasar, dan tanah yang memiliki kapasitas pengikatan P tinggi (tanah masam dan andisol), aplikasi pupuk dalam lubang tugal (4 – 8 lubang/pohon) lebih dianjurkan dibandingkan dengan disebar dalam parit melingkar.  Segera basahi tanah (irigasi ringan) setelah aplikasi pupuk agar akar tidak terbakar.

Pupuk mikro yang dibutuhkan tanaman hanya sedikit.  Oleh karena itu, aplikasinya paling mudah dan efktif adalah melalui daun.  Pupuk mikro disemprotkan pada daun pada pagi hari sebanyak 2 sampai 3 kali pada saat pertunasan.

Tanaman sehat dan mutu buah jeruk keprok Batu 55 yang prima hanya dihasilkan melalui manajemen nutrisi yang tepat

artikel ini juga diupload di http://balitjestro.litbang.deptan.go.id/id/438.html

About these ads

Responses

  1. Good job…!!!

  2. mohon dikirim ke email saya Pak..dosis obat hama jeruk siam,tksh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: