Mengebunkan Jeruk Besar Secara Intensif

oleh: Sutopo

Mengharapkan tanaman jeruk besar berproduksi optimal setiap tahun tidaklah sulit. Kuncinya pemupukan tepat, pengairan cukup, dan pertumbuhan seimbang antara vegetatif-generatif. Selain itu, pengendalian hama, penyakit, dan gulma tidak terlewatkan. Apalagi ia kurang disukai CVPD yang ditakuti petani jeruk.

Jeruk Besar CSD 2010

Saat ini daerah sentra produksi pamelo atau jeruk besar (Citrus grandis) Kabupaten Magetan, sudah mulai dikebunkan jeruk itu sebagai tanaman komersial. Dulunya ia hanya ditanam di pekarangan sebagai tanaman sampingan. Pertumbuhan dan produktivitas yang optimal dihasilkan di kebun yang lingkungannya sesuai, serta pengelolaan kebunnya baik sejak persiapan lahan sampai tanaman menghasilkan. Perawatan pamelo lebih mudah dibandingkan jeruk lainnya, dan ia kurang disukai CVPD.

Kesesuaian lahan

Produktivitas optimal pamelo hanya bias diperoleh di dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl. Di dataran tinggi, pertumbuhannya cenderung vegetatif, umur matang buah lebih panjang, rasa buah agak pahit, dan pohon rawan kena serangan penyakit cendawan. Pamelo juga menghendaki sinar matahari penuh dan suhu udara siang relatif tinggi, antara 220—330C. Curah hujan setahun antara 1500—2000 mm dengan bulan kering (<60mm) sebanyak 3-4 bulan berturut-turut.

Perakaran jeruk besar yang normal dapat berkembang mencapai kedalaman lebih dari 1 m dan tidak menyukai genangan air. Ia menginginkan tanah bersolum dalam>100 cm) berdrainase dan beraerasi yang baik.Kedalaman air tanah sekitar 75cm, tekstur tanah berpasir sampai lempung berpasir, serta pH tanah antara 5,5-6,5. Pada pada pH diatas 7 sering terjadi kekurangan unsur mikro, sedangkan bila pH di bawah 5 unsur mikro akan meracuni tanaman.

Penanaman

Penanaman dengan cara baris disarankan menggunakan jarak tanam 6 m x 7 m, sedangkan dengan cara diagonal 8 m x 9 m.Baris  tanam diatur mengikuti arah barat dan timur cahaya matahari dapat masuk merata ke seluruh bagian kebun. Lubang tanam dibuat dengan panjang dan lebar masing-masing 60 cm dan kedalaman 75 cm.Tanah galian dicampur pupuk kandang sekitar 0,20—0,25m3/ lubang.

Bila kadar tanah liat tinggi, aerasi dan drainasenya diperbaiki dengan penambahan pasir (3 bagian tanah + 1 bagian pasir + 2 bagian pupuk kandang). Jika pH tanah di bawah 5,5 ditambah dolomit sebanyak 1-2 kg.

Bibit berasal dari okulasi antara batang bawah japanse citroen (JC) dan rough lemon (RL) dengan mata tempel yang bebas penyakit. Mata tempel jeruk besar bisa diperoleh di Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) antara lain di Balai Benih Induk Hortikultura Jiwan, Kabupaten Madiun. Penggunaan batang bawah varietas troyer citrange, earizzo citrange, volkmeri<1’fla, citrumello dan lainnya belum pernah diuji di Indonesia. Ciri-ciri bibit unggul siap tanam ialah batangnya kokoh, daunnya tegar, tidak sedang aktif bertunas, tinggi sekitar 75­—100 cm, dan tidak terserang hama penyakit. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.

Untuk mendapatkan bentuk pohon yang baik, percabangannya perlu diatur sejak dini. Dalam satu pohon hanya ada 1 batang utama, 3 cabang primer, dan 3 cabang sekunder. Setelah tanaman beradaptasi di lapangan, batang utama dipangkas setinggi 30—50 m dari pangkal akar. Beberapa tunas dibiarkan tumbuh, kemudian dipilih 3 tunas yang letaknya berlainan dan pertumbuhannya seimbang. Setelah eabang primer tumbuh kuat, ujungnya dipangkas, disisakan sepanjang: 25—30 cm. Selanjutnya dari tiap eabang primer dipelihara :3 cabang sekunder. Ranting yang tumbuh di cabang sekunder diatur agar dapat mendukung pertumbuhan dan produksi buah secara optimal.

Perawatan tanaman

Jeruk besar mempunyai 3 periode krisis air. Pertama, ketika tanaman aktif melaku­kan pertumbuhan vegetatif sampai umur 3 tahun. Kedua, ketika pertunasan menjelang pembungaan. Dan ketiga, waktu pembungaan sampai pembentukan buah. Menjelang buah matang, air dikurangi bahkan setelah panen dikeringkan sekitar 3 bulan. Setelah pengeringan, apabila diairi atau turun hujan, tanaman segera ­bertunas diikuti pembunga­an. Seeara umum kebutuhan air untuk tanaman pamelo di musim kemarau disajikan dalam tabel 1.

Kebutuhan Air

Umur tanaman (tahun)

1

2

3

4

Luas tajuk (m2)Kedalaman akar (cm)Air yang diberikan (l)

Frekuensi pemberian (hari)

1

30

25

3

5

50

100

6

10

70

500

15

15

90

750

15

Tabel 1. Kebutuhan air pada jeruk besar selama musim kemarau

Tidak hanya pupuk kandang, pupuk buatan juga tidak boleh ketinggalan, agar pertumbuhan dan produktivitas optimal. Pada pertumbuhan vegetatif, pemberian pupuk N dan P harus diutamakan, dan setelah memasuki usia produktif, pupuk N dan K yang diutamakan. Tiga bulan setelah tanam dilakukan pemupukan pertama; selanjutnya setiap 2-3 bulan, tergantung ketersediaan air. Setelah umur 5 tahun lebih, cukup dipupuk 2 kali setahun, yaitu pada awal musim hujan dan 4 bulan kemudian. Secara umum dosis pupuk jeruk besar disajikan dalam tabel 2.

 

Tabel 2. Pemupukan tanaman jeruk besar

Umur tanaman (tahun)

Dosis pupuk (g/ pohon)

Frekuensi pemupuk kandang setiap tahun (m/ pohon)

Pupuk kandang setiap tahun (m/ pohon)

Urea

(45% N)

SP 36

(35%P2O5)

ZK

(48%K2O)

0—2

2—4

5

6

7

40—60

150—230

300

500

1.000

30—60

90—140

175

250

500

15—40

7—30

300

500

1.000

2—3 bulan

3—4 bulan

2 kali/ tahun

0,25

0,25—0,50

0,50—0,75

0,50—0,75

>  8

Disesuaikan dengan produksi buah

2 kali/ tahun

0,75—1,00

Pada usia 7 tahun dan selanjutnya, produktivitas tanaman mulai optimal, sekitar 75—200 buah/ pohon. Dosis pupuk yang diberikan tergantung produksi. Jumlah seluruh unsur N, P, dan K yang hilang setelah panen sekitar 3% dari bobot buah yang dipanen. Perinciannya, 1,2% N, 0,6% P2O5 dan 1,2% K2O. Setiap panen 100 kg buah, perlu pemberian pupuk minimal 1,2 kg N, 0,6 kg P2O5 dan 1,2 kg K2O, atau 2,7 kg urea, 1,7 kg SP36, dan 2,5 kg ZK.

Pada lahan berpasir atau berkapur sering terjadi gejala kekurangan unsur mikro, terutama, Fe, Zn, dan Mn. Hal ini disebabkan pemberi­an pupuk kandang atau pupuk N dan P yang berlebihan tanpa memperha­tikan keseimbangan unsur lain. Penyembuhannya lebih eepat dilakukan dengan penyemprotan pupuk daun. Waktu yang tepat untuk memberikan unsur mikro ialah ketika ada per tunas an sebelum bunga mekar dan setelah terbentuk bakal buah. Pupuk disemprotkan ke daun sebanyak 2-3 kali dengan konsentrasi sekitar 2 g atau 2 cc per liter air.

Selain itu, kebun jeruk besar sebaiknya bebas gulma, terutama pada tanaman muda dan menjelang pemupukan. Pengendalian gulma dapat dilakukan bersama pengolahan tanah sebelum pemupukan. Dalam kebun yang luas, pengenda­lian gulma dapat dilakukan dengan menanam tanaman penutup tanah, atau penyem­protan herbisida sebanyak 1-2 kali setahun.

Panen

Tanaman yang baru belajar berbuah harus dija­rangkan buahnya. Bahkan jika perlu, seluruhnya dibuang agar pertumbuahan vegetatif tidak terganggu. Untuk tanaman dewasa, penjarangan buah yang tepat akan menghasilkan buah ber­ukuran seragam serta pro­duktivitas yang lebih stabil. Penjarangan buah dilakukan ketika diameter buah sekitar 10 cm atau menunggu setelah musim rontok, dengan menyisakan 2-3 buah/ tandan. Buah hasil penjarang­an ini sangat coeok dibuat manisan atau jelly. Di Magetan, musim panen berlangsung pada Februari-November dengan panen raya antara April­-Juni. Sekitar 7-8 bulan sejak bunga mekar, umumnya buah telah matang secara fisiologis. Ciri buah siap petik, antara lain warna kulit mulai agak menguning, ujung buah agak rata, kulit buah terasa lebih halus, bulu pada kulit mulai hilang, dan bila buah ditimang-timang terasa berisi.

Pemetikan dilakukan dengan memotong tangkai buah sekitar 2 cm dari pangkal buah,dengan gunting pangkas. Permukaan tangkai buah pangkasan tidak boleh runcing atau terlalu panjang agar setelah dikumpulkan tidak merusak buah yang lain. Buah tidak boleh dijatuhkan dari pohon. Buah hasil panenan kemudian dimasukkan ke dalam karung, dan dijaga supaya tidak terkena tanah seeara langsung sampai saat pemasaran. Setelah panen, kesehatan dan keseimbangan pertumbuhan vegetatif ­generatif tanaman jeruk besar harus dijaga. Meskipun dapat dilakukan setiap saat, biasanya pemangkasan pemeliharaan dilakukan setelah panen. Pemangkasan pemeliharaan ini membuang tunas air, ranting kering atau yang terserang penyakit, dan tangkai buah jeruk yang telah dipanen. Setelah panen, dengan produksi tinggi, tidak boleh dilakukan pemangkasan terlalu banyak karena akan mengurangi produksi musim buah berikutnya. Sebaliknya jika tanaman terlalu rimbun dan buahnya hanya sedikit, justru perlu dipangkas berat untuk merangsang pembungaan. (Sutopo, Peneliti Balitjestro, Tlekung)

Ir.  Sutopo, MSi
Staf Peneliti Balitjestro, Tlekung
HP: 081233440678

About these ads

Tags: , , , ,

About kpricitrus

Koperasi Pegawai Republik Indonesia Citrus, Batu - Jawa Timur

One response to “Mengebunkan Jeruk Besar Secara Intensif”

  1. tombro says :

    wah enaknya… manis kan? moga dapat di jumpai di Jakarta.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 847 other followers

%d bloggers like this: